Padi Menguning di Pandeglang Banten

By Admin


nusakini.com - Indahnya suasana alam pedesaan saat panen padi dengan hamparan yang menguning sungguh menenteramkan hati.

Apalagi, hal ini menjadi kontras dengan birunya gunung di kejauhan di Desa Kadugemblo, Kecamatan Kaduhejo, Kabupaten Pandeglang, Banten. Siang ini, Sabtu, 13 Januari 2018 masih ada beberapa petani penggarap yang melakukan panen di lahan sawah.

Badran, salah satunya, penggarap sawah milik Hj. Enoh yang memiliki lahan masih panen bersama istrinya. Sebagian besar lahan sawah ini dilakukan oleh petani penggarap, dimana mereka juga tergabung dalam Kelompok Tani Bina Karya yang didirikan semenjak tahun 1982.

Kelompok ini beranggotakan 35 orang yang diketuai oleh Asep Suherman. Hamparan luas panen di kelompok ini mencapai 25 Ha, dimana sebagian besar sudah dilakukan panen.

Pengairan sawah ini dilakukan melalui irigasi pedesaan dengan pola tanam padi-padi-sayuran seperti kacang panjang, mentimun, dsb. Varietas padi yang ditanam umumnya adalah ciherang, namun Badran lebih suka menanam padi varietas lokal yang disebutnya dengan “KTM”. Tanaman padi ini relatif lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman padi ciherang, dengan keunggulannya yang tahan terhadap hama wereng. 

Diakuinya bahwa dari sisi “rasa”, beras KTM tidak seenak ciherang yang juga pulen, namun dapat panen dengan hampir tidak terganggu oleh wereng. Harga gabah kering panen saat ini adalah Rp.4600-Rp.4800/kg. 

Kondisi di lapang menunjukkan bahwa panen padi masih akan terus berlangsung sampai dengan akhir Januari di desa ini. Ketua kelompok, Asep Suherman menyatakan “jangan sampai impor”, karena Pandeglang sebentar lagi akan mencapai puncak panen pada bulan Februari-Maret. Apabila impor dilakukan saat ini, berarti bulan depan saat panen raya, gabah akan melimpah dan harga jual GKP menjadi murah.

Bukti nyata pemerintah pro petani adalah “stop impor beras”. Demikian pernyataannya dengan penuh semangat dan berapi-api. "Biarkanlah petani menikmati harga GKP yang sedang baik ini, toh tidak terlalu lama lagi. Kasihanilah kami" keluh petani lanjutnya. (pr/eg)